Mulailah menulis. Lupakan dulu aturan-aturan penulisan !!



Mulailah menulis secara terus-menerus dengan konsisten

Teruslah menulis, walaupun apa yang kita tuliskan hanya: “Aku tidak tahu apa yang harus kutulis.” Artinya, jangan pernah mengatakan, “Aduh, lagi nggak punya ide nih…”  padahal sebenarnya ide itu ada di sekitar kita. Hanya saja kita tidak cerdas dalam menjemput ide tersebut.   

Saat timer berjalan, hindari:

·         Pengumpulan gagasan
·         Pengaturan kalimat
·         Pemeriksaan tata bahasa
·         Mencoret atau menghapus

Kenapa? Ya, ketika kita menulis, biarkan otak kanan kita yang bekerja. Berpetualang dan berimajinasi dengan lincah. Jangan sampai otak kiri kita ikut campur. Nanti ketika saatnya pengeditan, barulah otak kiri mengambil perannya. 

Teruskan hingga waktu habis dan itulah saatnya berhenti
Jika ada batas waktu yang pasti, kita akan tahu kapan kita akan berhenti menulis suatu topik dan melanjutkan topik yang lainnya.

Itu hanyalah tips dan trik sederhana untuk menjadikan kita terus semangat untuk menulis.  Banyak orang bilang, menulis itu seperti berenang. Meskipun kita tahu teori paling bagus untuk berenang, jika kita tidak pernah mencoba, itu sama saja bohong. 
 
Ingat, ada satu pepatah: possible thing is usual, usual thing is forced or loved. Bisa itu karena biasa, biasa itu karena terpaksa atau mencintai. Kita tinggal memilih, mau melakukan sesuatu dengan cinta atau karena keterpaksaan. Tapi, sesuatu yang dikerjakan dengan penuh cinta, hasilnya akan jauh lebih baik dibanding karena terpaksa. Secara umum, konsep menulis bebas mengedepankan niat atau semangat untuk menulis. Jadi, jika Anda sudah punya semangat menulis, Anda sebetulnya sudah punya modal yang sangat penting. 

Misalnya:  “Saya bingung nih, mau nulis apa. Apa yang harus saya tulis, ya? Kenapa ide sama sekali tidak muncul? Padahal kemarin saya ada ide, lho. Kenapa sekarang idenya hilang tak berbekas? Kenapa? Kenapa saya jadi blank begini?…..” Berdasarkan pengalaman dan orang-orang yang sudah mengaplikasikan kiat menulis bebas, dari tulisan semacam di atas ide akan memancar dengan sendirinya.

Menulislah – pada saat awal – dengan hati. Setelah itu, perbaikilah tulisan Anda dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan
Ekspresikan dulu spontanitas dan letupan-letupan pikiran yang ada pada saat itu. Pada tahapan ini, Anda tidak perlu mempermasalahkan semua teori penulisan. Bahkan Anda tidak perlu memeriksa dulu tulisan Anda.

Mungkin Anda akan bertanya kenapa kita tidak memeriksa tulisan kita sejak tahap pertama ini? Bukankah akan lebih efisien? Memang jika kita mementingkan efektifitas itu merupakan langkah yang tepat. Namun, terkadang ketika kita memeriksa tulisan di tengah proses pertama ini, justru akan menghambat ide-ide yang juga muncul karena terganggunya ritme menulis kita. 

Hasilnya adalah kemandekan-kemandekan dan berdampak berkurangnya semangat menulis. Jadi, daripada kita malah justru berhenti menulis karena mandek, lebih baik tunda dulu memeriksa tulisannya.

Bangkitkan Potensi Anda !

Pada beberapa kesempatan pelatihan menulis, saya selalu mengulang-ulang bahwa kemampuan menulis itu bukan bakat, Keterampilan menulis itu  bisa dilatih. Jadi, untuk dapat menulis, dasarnya lebih pada: "keinginan dan minat yang besar untuk mau belajar, membangun kebiasaan menuangkan gagasan lewat tulisan. 

Menulis apapun memerlukan kesungguhan. Jangan memposisikan menulis sebagai pekerjaan instant, asal jadi. Kegiatan menulis dapat dilakukan siapapun, termasuk Anda, yang sedang membaca tulisan ini.

Jangan memvonis diri sendiri tidak bakat menulis, karena jika sudah memvonis diri tak berbakat menulis, tak mampu, tak ada waktu, tak ada ide. Vonis itu secara psikologis akan menjadi kenyataan. Ketika Anda memvonis diri seperti di atas, maka membuat karya tulis betul-betul akan menjadi tidak mudah. 

Katakanlah, bahwa Anda bisa. "Saya bisa". Saya pasti bisa menulis. Dan demikian, Anda betul-betul akan kaget karena tiba-tiba Anda lancar menulis.


Untuk memotivasi diri agar mau menulis, pertama membangun keyakinan bahwa: 
"menulis itu dapat dipelajari dan dilatih".
  
Selanjutnya, untuk mencari format tulisan caranya dengan memperbanyak kegiatan membaca, lalu ikut berpartisipasi dalam setiap acara seminar lokal maupun nasional.  Selain itu selalu pelihara kesehatan, dan terakhir perluas wawasan.

Ingat, semua orang memiliki potensi menulis. Oleh karena itu: Bangkitkanlah potensi menulis Anda. Bangkitkan,  sehingga Anda bisa menuliskan apapun yang ingin ditulis. Mari mulai, saat ini.

Menulis Dengan Gaya Anda Sendiri

Menulis Gaya Bebas

Apakah Anda masih ragu-ragu menulis?

Bila Anda baru belajar menulis, dan menerapkan kiat menulis bebas pun terasa masih sangat sulit, maka Anda bisa dianalogikan seperti seorang anak SD atau TK yang baru belajar membaca. Pada kondisi seperti ini, “kiat menulis bebas” bisa disebut sebagai alat bantu yang ditujukan bagi Anda yang masih sangat pemula dalam menulis.

Dengan alat bantu ini maka orang yang paling pemula pun diharapkan bisa menulis secara lancar selancar-lancarnya, tanpa mandeg atau mentok sama sekali. Tapi Anda juga tentu paham bahwa keahlian apapun akan bisa diasah melalui praktek.

Semakin sering menulis, keterampilan Anda dalam menulis pun makin terasah. Sama seperti seseorang yang belajar sepeda. Awalnya terasa sulit, sering nabrak sana, nabrak sisi,, terpeleset, dan seterusnya. Tapi semakin sering mengayuh sepeda itu, dia makin mahir. Demikian halnya dengan menulis. Keahlian menulis yang Anda miliki akan makin terasah, jika terus menulis. Menulis apa saja dulu.

Anda akan makin terampil atau mahir menulis, bila Anda semakin sering praktek menulis. Dan bila Anda sudah sampai pada tahap mahir atau ahli, mungkin kiat menulis bebas tidak terlalu relevan lagi bagi Anda. Anda mungkin bisa menulis dengan lancar walau sambil sesekali mengedit tulisan yang baru saja Anda ketik, misalnya.

Terus terang, saya pun sering seperti itu : Tapi selama “pelanggaran” yang Anda lakukan terhadap kiat menulis bebas ini tidak membuat Anda mandeg menulis, atau justru membuat Anda makin lancar menulis, maka silahkan lanjutkan “pelanggaran” tersebut. Kenapa?

Sebab kita tidak boleh memperlakukan kiat menulis bebas ini sebagai sebuah kitab suci yang tak terbantahkan. Dia hanyalah alat bantu. Sebagai alat bantu, kita hanya membutuhkannya bila dia memang benar-benar bisa membantu pekerjaan kita. Bila dia justru mempersulit pekerjaan kita, lantas buat apa dipakai? Dan dalam menerapkannya pun, fleksibel sajalah.

Jangan terlalu kaku. Seperti yang saya jelaskan di atas: Tidak mematuhi kiat ini secara seratus persen bukanlah masalah. Yang penting Anda tetap dapat lancar dan nyaman dalam menulis. Kiat Menulis Bebas = Untuk Dipraktekkan, Bukan untuk Dibaca atau Dihafal Belaka “Silahkan langsung dipraktekkan. Kiat menulis bebas itu bukan untuk sekadar dibaca atau dihafal. Sebab Anda baru bisa merasakan dampak dan kedahsyatannya bila Anda mencobanya langsung

Jadi bagi anda yang masih bingung juga setelah membaca tulisan ini, ayo langsung dipraktekkan saja.

Silahkan langsung menulis!

Bagi pemula, ketika memulai menulis, jangan pikirkan harus langsung membuat tulisan bagus. Langsung saja tuliskan apa yuang ada di pikiran dengan gaya bebas, layaknya menulis surat, mengisi diary (buku harian), atau menulis jawaban soal ujian di bangku sekolah/kuliah/testing penerimaan pegawai.

Biarkan mengalir. Dalam tulis menulis ini ada pepatah “All the first draft are shift”, semua tulisan pertama pasti kacau balau (Romli, 2005). Tulisan yang baik memanfaatkan kedua belahan otak itu yakni otak kanan dan otak kiri. Secara hukum alam, kita terbiasa mengerjakan apapun dengan otak kanan dulu baru otak kiri. Artinya, spontan dulu baru mikir-mikir.

Kelemahan selama ini kita melakukannya dengan menggunakan otak kiri dulu, tidak sesuai dengan fitrah kita. Kita mulai menulis dengan berbagai macam pikiran dan pertimbangan, berikut:

  • Tulisan ini nanti jadinya bagus tidak ya? 
  • Bagaimana kalau hasilnya jelek? 
  • Bagaimana kalau nanti tulisan ini diejek oleh orang lain? 
  • Bagaimana kalau tulisan ini tidak sesuai dengan tata bahasa dan ejaan yang berlaku? 
  • Kalau tulisan ini saya kirim ke Kompas, dimuat enggak ya? 
  • Saya ingin membuat tulisan sebagus tulisan Andrea Hirata. Tapi bagaimana kalau tulisan saya nantinya tidak bagus, jauh dari kualitas Andrea Hirata? 
  • Dan seterusnya!
Munculnya pikiran tersebut sebenarnya wajar, dialami oleh setiap orang yang akan menulis. Persoalannya tinggal bagaimana kita mau mengabaikan pikiran tersebut. Hindarkan diri dari pikiran tersebut. Lepaskan pikiran kita dari persoalan yang akan mengganggu niat kita menulis. Pasti bisa. 
Selesai membaca tulisan ini, cobalah lihat data yang dimiliki. Ceritakanlah isi dan makna dari data itu dengan bahasa dan gaya kita sendiri. Tulis sebanyak mungkin, sampai kita kehabisan kata-kata lagi untuk dituliskan. 
Setelah itu silahkan save . Biarkan pikiran kita mengendap dulu. nanti ketika muncul keinginan menulis, silahkan buka. Mulailah periksa.  Baca tulisan kita.... nanti secara tidak disadari akan terasa mana yang ceritanya sudah mengalir, mana yang tersendat, dan mana yang tidak nyambung. 
Silahkan perbaiki, setahap demi setahap. jika terasa pikiran kita buntu, berhentilah. Tetapi jangan lupa save ya, dengan nama file berbeda. Jangan menimpa file asli. 
Silahkan mulai !!!.