Pertanian Bioindustri

Pertanian bioindustri merupakan pertanian masa depan, yang ramah lingkungan. Dengan pertanian bioindustri produk limbah akan berkurang, karena dapat dimanfaatkan menjadi output yang ekonomis. Dapat menjadi sumber tambahan pendapatan.
Bagaimanakah prinsip-prinsip yang ditempuh untuk mengelola pertanian bioindustri, lebih jelasnya dapat disimak dalam e-book yang sudah saya siapkan.

Mengenal Buku Bunga Rampai

Apakah itu Bunga Rampai?
Bagi insan fungsional yang terdiri dari peneliti, penyuluh, dosen, widyaiswara, dan fungsional lain, istilah bunga rampai tidak asing. Sebagian di antara insan fungsional tersebut termasuk Anda mungkin pernah menjadi partisipan dalam salah satu buku bunga rampai. Bunga rampai ini tergolong Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang masuk kategori Unsur Utama. Di dalam peraturan LIPI, bunga rampai ini diberi Kode II A4.

Bunga Rampai juga merupakan salah satu unsur yang menjadi persyaratan kompetensi bagi seseorang untuk naik jabatan fungsional. Bunga Rampai merupakan kompetensi bagi Pejabat Peneliti Ahli Madya yang akan mengusulkan naik jabatan ke Peneliti Ahli Utama. Oleh karena itu, menulis di Bunga Rampai menjadi suatu keharusan jika akan mengusulkan kenaikan jabatan.

Namun demikian, meskipun belum menjadi kompetensi bagi jabatan Peneliti Madya ke bawah membuat Buku Bunga Rampai dapat dijadikan sarana mendulang nilai kredit poin (KUM). Mengapa? karena nilai kredit poin setiap naskah dalam buku bunga rampai nilainya relatif lebih tinggi dari nilai naskah prosiding.

Membuat buku bunga rampai tidak perlu melalui momentum seminar nasional seperti halnya membuat Prosiding.

Pertanyaannya: Bagaimanakah format tulisan yang dapat dikategorikan sebagai buku bunga rampai? Apa bedanya bunga rampai dengan buku utuh yang bukan bunga rampai.

Simak penjelasannya dalam uraian berikut !.

Istilan buku bunga rampai, dikenal juga dengan sebutan "Bagian Dari Buku". Kenapa disebut bagian dari buku, karena isi bunga rampai memuat beberapa naskah utuh. Maksudnya setiap naskah merupakan bagian yang mandiri dan tuntas. Strukturnya sama dengan tulisan sekundair atau review. Muatan materi yang disajikan dalam setiap naskah, berada dalam satu bahasan. Ada pertalian antara satu naskah dengan naskah lainnya.

Setelah Judul, dibawahnya diikuti nama penulis disertai alamatnya. Lalu secara berturut-turut memuat Pendahuluan, Pembahasan (Uraian isi naskah), Kesimpulan, Ucapan terimakasih, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Di dalam naskah Buku Bunga Rampai tidak harus ada Abstrak seperti dalam naskah umumnya, karena dalam Buku Bunga Rampai, abstrak itu diwakili oleh adanya Prolog.

Bedanya dengan Buku Utuh secara kasat mata tampak dari struktur penulisan. Dalam buku utuh isinya tidak terbagi ke dalam beberapa naskah mandiri. Muatan isi buku utuh menampilkan satu kesatuan, yang ditampilkan Bab per Bab mulai Pendahuluan, Isi, hingga Kesimpulan dan Daftar Pustaka. Disamping itu pada buku utuh nama penulis ditampilkan pada sampul depan bagian luar.

Uraian secara detail dari Buku Bunga rampai ini, dapat Anda ikuti pada posting berikutnya. Terimakasih








Mengapa Anda ragu-ragu menulis?



Mengenal dan Memahami Sifat-Ragu-ragu

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI-online, 2017), kata  ragu diartikan “dalam keadaan tidak tetap hati (dalam mengambil keputusan, menentukan pilihan, dan sebagainya); bimbang” dan “sangsi (kurang percaya)”. Sementara itu kata “ragu-ragu” diartikan “bimbang;  kurang percaya”.
Secara psikologis, ragu-ragu itu cerminan aktivitas berpikir seseorang yang membutuhkan waktu relatif cukup lama dari yang seharusnya. Sehingga bagi peragu, membuat keputusan menjadi hal tersulit dalam hidupnya.
Orang dikategorikan ragu-ragu menulis manakala ia bimbang atau kurang percaya diri untuk menulis. Sifat orang peragu itu tidak dapat dilihat secara kasat mata, karena itu merupakan persoalan hatinya. Akan tetapi perilaku orang yang peragu, tampak dari “bahasa tubuhnya” dalam merespon dinamika yang terjadi. Ia akan lebih bersikap menghindar dari persoalan ketimbang mencari solusi.
Sifat ragu-ragu itu bisa menerpa siapa saja. Tidak mengenal usia, status, posisi jabatan, pangkat, pekerjaan dan profesi. Demikian juga dalam hal menulis. Keraguan menulis di lingkungan peneliti ataupun pejabat fungsional lainnya tidak terjadi hanya pada calon peneliti atau calon penulis. Peneliti senior sekalipun, terkadang masih dihinggapi sifat ragu-ragu ketika akan menuangkan gagasan dalam karya tulisnya. Itulah karakter ragu-ragu yang oleh banyak kalangan dikatakan sifat ragu-ragu itu dikatakan sebagai manusiawi.
Penyebab keraguan pada setiap orang tidak sama. Pada dasarnya faktor yang dapat memicu keraguan itu dibedakan ke dalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dominan mendorong orang bersifat ragu-ragu lebih disebabkan karena karakteristik individu, seperti faktor usia, sikap yang introvert (menutup diri), kurang gaul, merasa rendah diri, dan sejenisnya. Sementara itu penyebab eksternal yang dominan menyebabkan keraguan antara lain faktor lingkungan yang kurang kondusif, dan tekanan pekerjaan yang menuntut kinerja optimal. 
Dalam konteks “membuat karya tulis” , keragu-raguan seseorang umumnya lebih banyak disebabkan karena kurang percaya diri, kehawatiran berlebihan karena takut dilecehkan, ditertawakan dan banyak alasan lainnya yang kadang-kadang irrasional.
Beberapa pakar psikologi, memberikan beberapa contoh penyebab yang membuat seseorang menjadi ragu-ragu (Anonimous, 2016), sebagai berikut:
*   Seseorang ragu-ragu ketika dihadapkan pada pilihan sulit yang tidak dibayangkan sebelumnya. Ia menjadi  ragu-ragu untuk memilih mana yang akan ditempuhnya.

*   Keraguan muncul karena terpaksa melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya, atau ia mendapatkan petunjuk yang membingungkan untuk menyelesaikan tugas yang sama.

*   Karena belum paham benar cara mengerjakan sesuatu hal, dapat juga menyebabkan ragu-ragu untuk melangkah lebih jauh.

*   Ia ragu karena tidak memiliki kemampuan dalam melakukan suatu pekerjaan. Merasa belum berpengalaman dalam mengerjakannya.  
Karena keraguan itu merupakan keputusan hati, maka untuk memahaminya juga harus dilakukan individual. Menurut pakar psikologi, untuk memahami keraguan sendiri dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan: (a) menyadari dan mengakui keraguan, (b) mempertanyakan keraguan, (c) fokus pada aspek positif, dan (d) hindari kebiasaan mencari kepastian.
Menyadari dan mengakui keraguan, menjadi salah satu solusi mengatasi keraguan menulis. Tidak menganggap keraguan menulis sebagai musuh atau penanda inferioritas. Tetaplah bersikap optimis, sehingga energi yang terbentuk tetap positif dan kondusif sehingga dapat mengatasi keraguan menulis.
Solusi berikutnya adalah introspeksi, yaitu dengan cara mempertanyakan keraguan Anda.  Awali penelusurannya dengan mengajukan pertanyaan terhadap diri sendiri:
*   Apa yang diragukan untuk menulis?
*   Mengapa muncul keraguan menulis?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan inti persoalan untuk memahami kondisi yang terjadi sehingga dapat mengambil tindakan konstruktif ke depan.
Dalam instrospeksi tersebut, tetaplah fokus pikiran kita pada upaya untuk memahami apa yang “menghalangi diri ini untuk menulis”. Dengan cara itu, Anda akan mengetahui keraguan mana yang penting dan beralasan. Jangan-jangan  keraguan itu ternyata tidak terlalu penting dan tidak serius.
Hindari untuk fokus pada hal-hal negatif,  yang tidak menyenangkan. Jika tetap memikirkan hal negative, Anda akan semakin pesimis ketika harus menyelesaikan sesuatu. Namun demikian, ada saran bijak dari pakar psikologi:
Jangan mengabaikan hal-hal negatif, namun jangan pula membiarkannya hal negatif itu mempengaruhi pikiran Anda. Setiap situasi pasti memiliki aspek positif yang juga perlu Anda perhatikan.
Ketika suatu waktu mengalami kegagalan membuat karya tulis, janganlah kegagalan itu dijadikan pembenaran untuk menyatakan menulis itu sulit. Tidak menggeneralisasi atau terbiasa menarik kesimpulan besar dari satu hal kecil. Terkadang, kondisi demikian membuat kita terlalu mudah memvonis buruk padahal hanya berdasarkan satu kali kegagalan.